BRIN Dorong Kampus Jadi Pusat Solusi dan Inovasi Bangsa

Selasa, 09 Juni 2026 | 01:19:31 WIB
Kepala BRIN, Arif Satria. [Foto: via Kompas.com]

MAKASSAR - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkonsentrasi untuk memacu dan memperkokoh perubahan peran perguruan tinggi agar mampu menjadi sentral terciptanya solusi serta inovasi yang sesuai dengan keperluan masyarakat maupun sektor industri.

Kepala BRIN Arif Satria dalam pernyataannya di Makassar, Selasa (9/6/2026), menggarisbawahi krusialnya perubahan peran perguruan tinggi di dalam ekosistem inovasi nasional.

Menurut dia, universitas tidak boleh sekadar menjadi lembaga pendidikan yang mencetak lulusan bermutu, melainkan mesti bertransformasi menjadi pusat lahirnya jalan keluar dan inovasi yang sejalan dengan tuntutan masyarakat serta dunia industri.

Guna menyokong target itu, kata dia, BRIN menyediakan beragam program kemitraan, yang mencakup skema pendanaan riset, Degree by Research, magang riset mahasiswa, Research Assistant, sampai program mobilitas peneliti dan akademisi di level internasional.

"Transformasi perguruan tinggi diperlukan, tidak hanya sekadar teaching university, namun perlu berkembang menjadi research university, dan pada akhirnya menjadi innovation university yang mampu menghasilkan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat, industri, dan pemerintah,” kata Arif.

Secara umum, menurut dia, orientasi kebijakan BRIN mempertegas bahwa masa depan riset tanah air amat bertumpu pada kekuatan kerja sama banyak pihak, terutama antara BRIN dan perguruan tinggi.

Kolaborasi itu diharapkan dapat mencetak talenta berkualitas, mempercepat hilirisasi inovasi, mendongkrak daya saing nasional, sekaligus menjadikan riset dan inovasi sebagai pilar utama pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Jamaluddin Jompa, mengutarakan secara strategis, BRIN dan Unhas mempunyai keselarasan visi untuk memosisikan riset sebagai instrumen pembangunan yang memberikan dampak nyata.

Bermacam bentuk kemitraan Unhas dan BRIN sudah berjalan di sektor-sektor strategis, mulai dari arkeologi, biodiversitas, kemaritiman, kesehatan, hingga pengembangan material serta biomassa guna mendukung agenda ekonomi hijau dan bioekonomi nasional.

Hal serupa dinyatakan oleh Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof Dr Hambali Thalib yang menyebutkan perguruan tinggi tidak boleh sebatas menjadi wadah belajar. Perguruan tinggi mesti bertransformasi menjadi pusat solusi.

Dia menerangkan, UMI tidak mau hanya sekadar mencetak ijazah, UMI bertekad menjadi pencetak solusi. Maka dari itu, indikator kesuksesan sebuah universitas bukan sekadar dari total lulusan, jumlah gedung, ataupun kuantitas publikasi yang diterbitkan.

"Ukuran keberhasilan universitas adalah sejauh mana ilmu pengetahuan mampu menyelesaikan persoalan masyarakat," ujar Hambali.

Terkini