Industri Otomotif Berpotensi Sesuaikan Harga Jual Mobil pada Juni 2026

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:53:31 WIB
Pengunjung melihat pameran otomotif.

JAKARTA - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) memberi sinyal kuat bahwa Agen Pemegang Merek (APM) otomotif di dalam negeri berpotensi menaikkan harga jual mobil pada bulan ini.

Sekretaris Umum GAIKINDO Kukuh Kumara menyebut langkah penyesuaian harga ini tidak terhindarkan akibat tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus berlanjut.

"Dampaknya pasti setelah sekian lama akan ada adjustment, yang kemungkinan dilakukan bulan ini. Ini baru informasi dari teman-teman APM (agen pemegang merek). Karena sudah beberapa bulan nilai tukar ini menurun terus, sementara industri otomotif tidak mungkin bebas sama sekali dari faktor komponen impor," ungkapnya.

Kukuh menjelaskan bahwa meski industri otomotif nasional terus menggenjot realisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), ketergantungan terhadap bahan baku impor masih sangat tinggi.

Bahan baku dasar, seperti baja, plastik, serta senyawa campuran manufaktur lainnya masih harus didatangkan dari luar negeri dan ditransaksikan menggunakan mata uang dolar AS.

"Sehingga perlu ada adjustment, tidak mungkin dipertahankan harga seperti itu," lanjut dia.

Kenaikan harga ini diprediksi akan menyasar seluruh segmen kendaraan, mulai dari low cost green car (LCGC), electric vehicle (EV), hingga jenis hybrid di pasar domestik.

Kukuh menegaskan bahwa kenaikan harga akan bervariasi tergantung pada kelas mobil tersebut. Semakin mewah atau tinggi kasta kendaraan seperti premium car, maka faktor sensitivitas terhadap nilai tukar akan semakin besar.

"Memang, kelas premium ini pembelinya berbeda lagi, secara finansial mereka kuat meski volumenya kecil. Yang volumenya besar justru adalah kendaraan yang diminati masyarakat banyak seperti LCGC. Tapi dilemanya, golongan masyarakat [pembeli LCGC] ini pendapatannya sedang terhimpit semua," tuturnya.

Untuk diketahui, tekanan yang dialami para APM sejalan dengan kondisi makroekonomi di pasar spot valuta asing. Nilai tukar rupiah tercatat terus mengalami tren pelemahan sejak awal tahun 2026.

Tekanan terhadap mata uang Indonesia semakin intensif memasuki pertengahan tahun akibat berbagai sentimen global, termasuk ketegangan geopolitik dan menyusutnya cadangan devisa domestik dalam lima bulan beruntun.

Rupiah bahkan telah menembus level psikologis baru dengan tertahan di atas Rp18.000 per dolar AS sejak awal Juni 2026 berdasarkan rilis data pasar keuangan terbaru.

Sementara itu, ketergantungan terhadap impor raw material ini menjadi catatan penting di tengah upaya Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang terus mendorong peningkatan nilai lokal pada rantai pasok otomotif.

Berdasarkan data Kemenperin, peta capaian serta target TKDN untuk segmen LCGC menjadi yang terdalam di Indonesia dengan angka komponen lokal berkisar antara 80 persen hingga 85 persen.

Untuk segmen mobil hybrid, kandungan lokal berada di rentang 40 persen hingga 60 persen. Sementara untuk kendaraan listrik berbasis baterai, Kemenperin menetapkan batas minimum TKDN sebesar 40 persen hingga akhir 2026

Terkini