Apindo: Ekspor Manufaktur 30% Perlu Pemangkasan Biaya Logistik & Energi

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:17:11 WIB
Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik Apindo, Chandra Wahjudi.

JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyambut baik langkah pemerintah untuk meningkatkan porsi ekspor produk manufaktur dari 20% menjadi 30%. 

Namun, pelaku usaha menegaskan bahwa target tersebut hanya bisa dicapai melalui reformasi struktural yang komprehensif, khususnya pemangkasan biaya logistik dan energi. 

Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik Apindo, Chandra Wahjudi, menyatakan bahwa selama satu dekade terakhir industri manufaktur nasional terus menghadapi tekanan biaya yang menghambat daya saing.

"Secara prinsip arah kebijakan ini tepat karena ekspor manufaktur adalah indikator kapasitas industri yang sehat. Namun pencapaiannya membutuhkan reformasi struktural mulai dari efisiensi logistik, stabilitas energi, hingga penguatan rantai pasok domestik agar produk Indonesia mampu bersaing dengan negara lain seperti Vietnam, Thailand, maupun China," ujar Chandra, Minggu (14/6/2026).

Pernyataan ini menanggapi target Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita untuk mengubah komposisi pasar manufaktur dari 80% domestik dan 20% ekspor, menjadi 70% domestik dan 30% ekspor. 

Data BPS menunjukkan sektor industri pengolahan pada triwulan I-2026 memberikan kontribusi 19,07% terhadap PDB, dengan nilai ekspor periode Januari-April 2026 mencapai US$ 75,57 miliar.

Menurut Chandra, untuk mencapai target ini, pemerintah perlu mengombinasikan kebijakan fiskal dan nonfiskal yang agresif. 

Pelaku usaha juga menekankan pentingnya pengendalian impor yang terukur agar tidak mengganggu ketersediaan bahan baku industri. 

Selain itu, Apindo mendukung perluasan implementasi Local Currency Settlement (LCS) untuk memitigasi risiko volatilitas nilai tukar dalam transaksi perdagangan global.

Terakhir, Apindo mendorong pemerintah untuk lebih serius memperkuat industri antara dan bahan baku domestik. 

Langkah ini dinilai krusial untuk menurunkan ketergantungan pada bahan baku impor sekaligus memperkuat rantai pasok nasional. "Perluasan penggunaan LCS dapat membantu mengurangi risiko nilai tukar, sementara penguatan industri antara dan bahan baku domestik akan menurunkan ketergantungan impor. Kebijakan ini akan menentukan agar ekspor manufaktur dapat tumbuh secara berkelanjutan dan mencapai target 30%," tutupnya.

Terkini