Tren Desain Kue Pernikahan Kini Menampilkan Kepribadian Pasangan

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:06:31 WIB
Ilustrasi Kue Pernikahan.

JAKARTA - Belakangan ini, kue pernikahan sudah tidak lagi sekadar menjadi pajangan di sudut ruangan, atau untuk memperindah area depan pelaminan.

Pasangan pengantin kini mulai menjadikan kue sebagai representasi diri dan cerminan karakter yang membedakan pernikahan mereka dengan pernikahan pasangan lainnya.

Pergeseran ini membuat desain kue pernikahan menjadi lebih personal, jauh dari kesan seragam atau template yang umum ditemukan pada perayaan konvensional sebelumnya.

Kue seharusnya menjadi bagian integral dari jati diri pasangan yang menikah.

Stella, pendiri Misoul Cake, menekankan bahwa estetika visual kue tidak akan memberikan dampak maksimal jika tidak selaras dengan kepribadian calon pengantin.

"Punya kue yang represent you aja sih. Jangan cuma pretty, tapi mungkin style-nya tuh enggak sesuai dengan kepribadian kamu," kata dia kepada Kompas.com di Bridestory Fair Juni 2026, JICC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, ketika tamu melihat kue tersebut, mereka harus bisa merasakan kesan personal yang kuat sebagai simbol ikatan pasangan.

Namun, keinginan untuk tampil beda mendorong calon pengantin untuk lebih banyak berdiskusi mengenai konsep yang tidak lazim.

Sherly, pemilik Sweetsalt Wedding Cake, sering menerima pesanan dengan tema yang sangat spesifik dan jauh dari pakem tradisional.

"Actually kami pernah bahkan bikin Star Wars temanya juga. Ada yang request kami juga Hello Kitty," ungkap Sherly.

Meski tema yang dipilih terasa kontras dengan tradisi pernikahan umum, vendor bertugas mengemasnya agar tetap terlihat manis dan cocok dengan suasana acara.

Calon pengantin tidak perlu merasa terbebani jika belum memiliki desain pasti yang mencerminkan kepribadian mereka.

Vendor kue pernikahan saat ini, umumnya menyediakan layanan konsultasi untuk membantu pasangan menggali preferensi yang sesuai dengan karakter mereka.

"Biasanya sih lebih memudahkan kalau setidaknya udah ada gambaran. Tapi kalau enggak ada pun enggak apa-apa, karena dari kami pun sebenarnya tuh udah menyediakan jasa consultation," ucap Sherly.

Permintaan yang menantang secara teknis pun pernah dihadapi vendor.

Stella menceritakan pengalaman mengerjakan pesanan dengan bentuk gedung untuk klien yang berprofesi sebagai arsitek.

"Disuruh bikin konsepnya tuh kayak kayu, kayak gedung kayu gitu. Agak aneh sih, tapi pas udah jadi, bagus juga," ujar Stella.

Meskipun desain visual kue pernikahan menjadi semakin berani, urusan rasa cenderung tetap berada pada jalur aman.

Pengantin menyadari bahwa kue pernikahan dinikmati oleh keluarga besar dari berbagai rentang usia.

Jika memilih rasa yang "kekinian" atau cukup aneh, kemungkinan sebagian besar tamu tidak akan menyukainya.

"Tetap rasa klasik sih ya menurutku. Kayak, kami udah pernah coba untuk bikin flavors yang kekinian banget lah, yang fusion, tapi tetap balik lagi sih ke rasa klasik," ujar Sherly.

Rasa seperti cokelat dan moka tetap menjadi pilihan yang paling difavoritkan karena akrab di lidah banyak orang. Begitu pula dengan rasa vanila dan stoberi.

Stella sependapat mengenai prioritas rasa ini. Ia menekankan bahwa keindahan kue tidak boleh mengesampingkan kualitas rasa yang disajikan kepada tamu.

"Kalau dari kami sendiri, kami fokusnya ke rasanya. Jadi, di saat orang cobain kuenya, itu bener-bener, 'Oh kue ini enak banget' sih, bukan cuma sekedar kue cantik atau cuman sekedar ada kue aja di pernikahan itu," jelas Stella.

Varian tradisional seperti lapis Surabaya juga disebut masih memiliki peminat yang stabil sampai saat ini.

Dengan mempertahankan cita rasa yang familiar, pengantin memastikan bahwa kue tersebut tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga dapat dinikmati dengan nyaman oleh tamu lintas generasi yang hadir.

Terkini