Anak Sering Membantah? Simak 7 Penyebab yang Jarang Disadari Orang Tua

Kamis, 18 Juni 2026 | 03:07:31 WIB
Illustrasi Anak Sering Membantah. (Foto: NET)

JAKARTA - Orang tua sering kali melabeli anak yang suka membantah sebagai anak nakal atau keras kepala. 

Namun, perilaku tersebut sebenarnya tidak selalu menunjukkan pembangkangan, melainkan sering kali menjadi bentuk ekspresi dari perkembangan emosional dan kognitif mereka.

Berikut adalah tujuh alasan psikologis di balik sikap anak yang sering membantah:

Belajar Mandiri (Otonomi): Membantah bisa menjadi cara anak menunjukkan bahwa ia memiliki pendapat dan cara berpikir sendiri. Ini adalah proses belajar untuk memiliki suara dalam dirinya.

Masa Kritis (Usia 9–13 Tahun): Pada fase pra-remaja, anak mulai sadar akan ruang pribadi dan rasa keadilan. Mereka cenderung lebih kritis dalam menerima aturan dibandingkan saat masih kanak-kanak.

Aturan Terlalu Sepihak: Anak akan mudah melawan jika aturan di rumah bersifat otoriter tanpa penjelasan. Pola komunikasi searah membuat anak merasa pendapatnya tidak didengar.

Kebutuhan untuk Memiliki Pilihan: Anak merasa perlu memiliki kendali atas dirinya sendiri. Ketika pendapatnya dianggap penting, hubungan orang tua dan anak cenderung menjadi lebih sehat.

Emosi yang Belum Matang: Saat merasa lelah, kecewa, atau kewalahan, anak sering mengeluarkan bantahan sebagai respons spontan karena kemampuan mengatur emosinya belum sebaik orang dewasa.

Kondisi Fisik dan Stres: Anak yang kurang tidur, lapar, atau terlalu banyak rangsangan (overstimulated) akan lebih sulit menerima arahan dan cenderung bereaksi lebih meledak.

Masalah Perilaku: Dalam kasus yang ekstrem, membantah yang intens dan terus-menerus bisa menjadi gejala Oppositional Defiant Disorder (ODD). Namun, ini memerlukan diagnosis profesional dan tidak boleh disimpulkan secara sepihak.

Kesimpulannya, bantahan anak sering kali bukanlah upaya melawan orang tua, melainkan cara mereka mencari batas, menyatakan diri, atau meminta didengar. 

Alih-alih menuntut anak untuk diam, orang tua disarankan untuk lebih peka dalam membaca pesan di balik perilaku tersebut.

Terkini