Kenali 6 Penyebab Sering Sembelit Selain Kurang Konsumsi Serat

Kamis, 25 Juni 2026 | 21:16:01 WIB
Ilustrasi Sembelit.

JAKARTA -- Sembelit menjadi keluhan kesehatan pencernaan yang sangat umum dialami oleh berbagai kalangan masyarakat. Namun, jika intensitas terjadinya terpantau terlalu sering, masyarakat wajib mewaspadai potensi indikasi gangguan medis lain yang jauh lebih serius.

Kondisi susah buang air besar ini pada umumnya terjadi akibat adanya transisi mendadak pada pola makan harian atau rutinitas fisik. Penurunan frekuensi ini membuat tinja menjadi keras sehingga sangat sulit untuk dikeluarkan dari anus.

Ketika mengalami keluhan ini, sebagian besar orang biasanya langsung disarankan untuk menambah porsi konsumsi serat harian. Rendahnya pasokan zat serat di usus memang menjadi pemicu utama terjadinya masalah penyumbatan ini.

Kendati demikian, dalam beberapa kasus klinis, penambahan porsi serat ternyata belum mampu menyelesaikan kendala buang air besar tersebut. Masalah gangguan pencernaan ini terkadang tetap bertahan meski pola diet sudah diperbaiki.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa akar masalah pencernaan ini bukan lagi disebabkan oleh minimnya asupan pangan berserat. Terdapat sejumlah faktor medis internal lain yang memicu perlambatan kinerja usus.

Penyebab pertama yang paling sering dijumpai pada masyarakat perkotaan saat ini adalah kurangnya aktivitas olahraga harian. Otot-otot di bagian dinding perut beserta diafragma memegang peranan vital dalam proses mendorong kotoran keluar.

Apabila kondisi otot-otot tubuh tersebut melemah akibat jarang digerakkan, maka kinerjanya dalam mendistribusikan sisa makanan tidak akan berjalan optimal. Rutinitas olahraga secara teratur terbukti efektif mengatasi sembelit pada usia muda.

Faktor kedua yang justru memperparah kondisi pencernaan adalah kebiasaan meminum obat pencahar atau laksatif secara berlebihan. Obat komersial ini memang kerap diandalkan oleh publik karena mampu memberikan solusi kilat secara instan.

Namun, konsumsi laksatif dalam dosis tinggi dan tanpa pengawasan tim medis justru akan memicu efek ketergantungan yang kontradiktif. Penggunaan keliru ini jamak ditemukan pada pasien pengidap gangguan makan anoreksia nervosa dan bulimia.

Pemicu ketiga adalah komplikasi dari sindrom iritasi usus atau dikenal secara medis sebagai irritable bowel syndrome (IBS). Pasien dengan diagnosis IBS umumnya mengalami perlambatan pergerakan usus besar secara signifikan.

Perlambatan tersebut memaksa penderita untuk mengejan sangat kuat disertai rasa tidak nyaman pada area perut. Melansir data dari Harvard Health Publishing, gejala klinis IBS juga bisa berupa diare akut, kram perut, hingga akumulasi gas berlebih.

Faktor keempat adalah penyakit hipotiroidisme yang menyerang sistem hormon di dalam tubuh manusia. Masalah ini berawal dari kegagalan fungsi kelenjar kecil di leher dalam menyuplai hormon yang cukup bagi tubuh.

Defisit pasokan hormon tersebut secara otomatis membuat ritme metabolisme tubuh melambat secara drastis. Efek domino dari perlambatan metabolisme ini turut memicu penurunan kecepatan kerja organ pencernaan hingga berujung pada sembelit.

Gejala lain dari hipotiroidisme meliputi rasa letih konstan, sensitif dingin, kulit bersisik, obesitas, siklus menstruasi kacau, rambut rontok, kuku rapuh, hingga penurunan memori otak. Pembengkakan pada area wajah juga kerap muncul.

Penyebab kelima adalah diabetes yang juga masuk dalam kategori masalah ketidakseimbangan sistem hormonal tubuh. Tingginya kadar gula darah yang melonjak tanpa kendali berisiko merusak jaringan saraf di saluran pencernaan.

Pasien patut mencurigai sembelit dipicu diabetes jika dibarengi gejala haus konstan, intensitas kencing meningkat di malam hari, kelelahan fisik, penyusutan berat badan, serta pandangan mata kabur. Diagnosis medis diperlukan untuk memastikannya.

Faktor keenam adalah tingginya tingkat kecemasan psikologis serta beban stres emosional yang melanda pikiran seseorang. Melansir laporan dari Healthline, kondisi cemas berlebih akan mengaktifkan sistem saraf simpatik secara otomatis.

Aktifnya saraf tersebut secara instan akan menghentikan seluruh rangkaian proses metabolisme dan pencernaan di dalam lambung. Imbasnya, penderita gangguan kecemasan umum akan sangat rentan mengeluhkan sembelit secara berkala.

Terkini