75 Tahun RI-Swiss: Momentum Kedaulatan Teknologi & Ekonomi

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:15:31 WIB
Hubungan RI-Swiss Ke-75: Fokus Kedaulatan Teknologi & Hilirisasi [FOTO: NET].

JAKARTA- Tahun 2026 menjadi momen bersejarah krusial bagi relasi diplomatik antara Indonesia dan Swiss yang sudah terangkai sejak tahun 1951. 

Melangkah ke usia ke-75, kedua pemerintah sepakat memanfaatkan perayaan ini sebagai pemacu guna memaksimalkan peluang kemitraan taktis, utamanya di tengah pusaran tantangan geopolitik dunia yang dinamis.

Kemandirian serta kedaulatan teknologi menjadi salah satu topik esensial yang digaungkan dalam peringatan tersebut. 

Di tengah kompetisi teknologi antarkelompok besar dunia, Indonesia bersama Swiss mempunyai kedudukan khas untuk melahirkan semacam "Gerakan Non-Blok" di sektor teknologi.

"Indonesia sebagai negara yang memiliki politik luar negeri bebas aktif, dan Swiss, negara yang netral, memiliki kekuatan. 

Kalau kami bisa jadikan satu, jadi semacam non-aligned dalam bidang revolusi teknologi," tutur Duta Besar Indonesia untuk Swiss I Gede Ngurah Swajaya, kepada delegasi jurnalis Grup Media Kompas, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bern, Swiss, Senin (29/6/2026).

Ngurah Swajaya mengimbuhkan bahwa tanpa adanya kemandirian di bidang teknologi, Indonesia bakal kesukaran bersaing apabila sekadar bersandar pada kubu-kubu yang sedang berkompetisi.

Pada sektor finansial, relasi kedua negara memperlihatkan performa yang amat impresif. Bersandar pada data periode Januari-Oktober 2025, Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan dengan Swiss mencapai nilai hampir US$ 5 miliar. 

Capaian positif ini ditopang oleh penerapan kesepakatan dagang Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

Menurut Ngurah Swajaya, kolaborasi saat ini difokuskan pada program hilirisasi industri, terutama lewat kesepakatan tata kelola sumber daya mineral dan metal yang baru saja diteken.

"Indonesia punya sumber daya alam, sedangkan Switzerland memiliki jaringan mengenai global commodity trading, memiliki teknologi, memiliki investasi," tandas Ngurah Swajaya.

Dengan begitu, ia menambahkan, kondisi tersebut dapat menghadirkan nilai tambah dalam pola kemitraan antara kedua belah pihak.

Di samping itu, pihak eksekutif pun terus memacu peningkatan kualitas sumber daya manusia lewat edukasi vokasi bersistem ganda (dual system) ala Swiss yang telah berhasil dijalankan di sejumlah wilayah seperti Solo, Cikarang, dan Bandung. 

Skema ini diproyeksikan dapat diadopsi di wilayah lain untuk menyokong percepatan kemajuan ekonomi.

Melangkah ke depan, lini ekonomi digital, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) serta fintech, diposisikan sebagai target prioritas anyar. 

Swiss yang superior dalam inovasi teknologi diproyeksikan dapat bertindak selaku rekanan dalam mendirikan infrastruktur digital yang terlindungi bagi Indonesia.

Menginjak umur ke-75 dalam relasi diplomatik RI-Swiss, penguatan ikatan antarmasyarakat (people-to-people) juga terus diakselerasi melalui diplomasi makanan serta pelatihan bahasa Indonesia (BIPA) yang jumlah peminatnya terus merangkak naik di Swiss. 

Proteksi dan sokongan bagi diaspora Indonesia yang merintis bisnis kuliner di Swiss dinilai sebagai taktik jitu guna mengampanyekan kultur serta keindahan sektor pariwisata tanah air.

Melalui rupa-rupa pencapaian sepanjang 75 tahun ini, kedekatan Indonesia dan Swiss diharapkan senantiasa berkembang menjadi kemitraan yang saling mengisi sekaligus mendatangkan kemakmuran untuk rakyat kedua negara.

Terkini