JAKARTA - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) terhitung sepanjang tahun 2023 hingga 2026 telah mengalokasikan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) menyentuh Rp7 triliun demi memperkokoh sektor teknologi informasi.
Informasi tersebut disampaikan secara langsung oleh Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo di sela-sela kegiatan Ngopi Bareng Media yang berlangsung di Kantor Pusat BSI, Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2026).
“Kalau IT, memang kami menggunakan capex dari multi years, dari 2023 sampai dengan 2026 itu sekitar Rp7 triliun, jadi selama 4 tahun itu,” ungkapnya, Rabu (1/7/2026).
Dirinya memaparkan, pemutakhiran di bidang teknologi kini telah bertransformasi menjadi kebutuhan yang bernilai strategis selaras dengan akselerasi digitalisasi industri keuangan serta tren pertumbuhan bisnis BSI.
Langkah pembenahan teknologi ini sekaligus diposisikan sebagai peta jalan korporasi untuk meraih visi besar menembus jajaran Top 5 Global Islamic bank serta memikat 40 juta nasabah pada tahun 2030.
Lembaga perbankan syariah paling besar di tanah air ini pun dilaporkan telah merampungkan penataan ulang sistem IT sebagai landasan pacu bisnis sekaligus penguatan fasilitas layanan digital.
Pada Mei 2026, Anggoro menyebutkan bahwa pihak BSI telah menuntaskan proses migrasi sistem core banking dari tipe R10 menuju versi R24 yang menjadi salah satu agenda teknologi terbesar dengan melibatkan 1.500 pekerja lintas fungsi.
Rangkaian proses tersebut dieksekusi secara bertahap melalui berbagai tahapan simulasi, disertai pengawasan dari OJK dan Danantara demi menjamin jalannya implementasi tetap aman, terarah, dan transparan.
Langkah pembaruan tersebut berhasil memacu tingkat efisiensi operasional hingga menembus kisaran 80 persen, mempercepat siklus proses Close of Business (COB), serta mendongkrak daya tampung sistem untuk menyokong ekspansi niaga.
Saat ini tingkat kesiapan atau availability dari semua saluran BSI berada di posisi 99,99% yang membuat lalu lintas transaksi melalui kanal digital maupun jaringan cabang berjalan tanpa hambatan.
“Ruang untuk menumbuhkan nasabah, inovasi untuk fitur baru di BYOND sangat luas karena kapasitas terpakai masih di bawah 10%. Nasabah akan merasakan manfaat dari kekuatan dan kecepatan IT BSI yang baru,” tuturnya.
Evolusi di sektor teknologi serta penetrasi bisnis ini pada akhirnya memberikan stimulus positif terhadap catatan performa keuangan korporasi.
Sampai dengan Mei 2026, BSI berhasil membukukan perolehan laba bersih (unaudited) senilai Rp3,39 triliun, alias melonjak sebesar 16,73% secara tahunan (year on year/YoY).
Di sisi lain, jumlah total aset BSI kini telah bertengger di angka Rp444 triliun, diikuti perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp372 triliun, serta penyaluran pembiayaan senilai Rp335 triliun dengan kualitas yang terjaga.