Emiten NCKL Percepat Tiga Proyek Strategis Nikel di Pulau Obi

Rabu, 01 Juli 2026 | 01:14:32 WIB
Pekerja melakukan proses pencetakan feronikel di salah satu pabrik tambang milik Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara.

JAKARTA - Perusahaan tambang dan hilirisasi nikel terpadu, PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) atau Harita Nickel, sedang memacu penyelesaian tiga program strategis di Kawasan Industri Pulau Obi, Maluku Utara.

Tiga fokus utama tersebut mencakup fasilitas pengolahan nikel Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) ketiga, pabrik pengolahan batu kapur menjadi quicklime, serta unit daur ulang sisa hasil produksi (tailing).

Direktur Utama NCKL Roy Arman Arfandy memaparkan, proyek smelter RKEF ketiga yang dikelola oleh anak usaha PT Karunia Permai Sentosa (KPS) mempunyai total 12 jalur produksi dengan daya tampung 185.000 ton feronikel (FeNi) per tahun.

“KPS merupakan RKEF plan yang ketiga kami. Sedang dalam proses finalisasi,” ujarnya saat paparan publik secara daring, Selasa (30/6/2026).

Pihak perseroan telah menuntaskan pendirian 10 lini produksi sepanjang tahun 2025, sementara dua lini pamungkas dirampungkan konstruksi fisiknya pada kuartal I 2026.

Saat ini pihak manajemen mulai menjalankan skema peningkatan bertahap atau ramp-up operasional pada beberapa lajur produksi agar bisa segera mencapai performa operasional puncak.

Manajemen menargetkan total 12 lini produksi di bawah payung KPS tersebut sudah dapat beroperasi penuh secara maksimal pada penghujung tahun berjalan ini.

Suplai tambahan dari KPS diproyeksikan bakal mengerek total kapasitas terpasang produk feronikel Harita Nickel di Pulau Obi menjadi 305.000 ton nikel per tahun pada akhir 2026.

Portofolio ini akan melengkapi dua fasilitas pengolahan eksisting milik perseroan yang sebelumnya telah beroperasi penuh melayani kebutuhan pasar.

Sebagai informasi, pabrik peleburan perdana perusahaan dikelola oleh PT Megah Surya Pertiwi (MSP) dengan volume produksi sebesar 25.000 ton nikel per tahun.

Selanjutnya, terdapat PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF) yang mengoperasikan delapan jalur produksi dengan kapasitas terpasang mencapai 95.000 ton nikel per tahun.

Selain mendongkrak hasil feronikel, Harita Nickel memacu proyek pendukung terintegrasi demi menekan ketergantungan terhadap struktur biaya eksternal.

Salah satu caranya ialah membangun unit pengolahan kapur tohor atau quicklime melalui badan usaha patungan PT Cipta Kemakmuran Mitra (CKM).

Unit ini memproduksi quicklime yang menjadi elemen kimia pembantu utama dalam rantai pemurnian bijih nikel kadar rendah (limonit) pada pabrik hidrometalurgi berbasis High-Pressure Acid Leach (HPAL).

“CKM akan menghasilkan quicklime untuk digunakan oleh dalam proses HPAL maupun di PT Halmahera Persada Lygend maupun di Obi Nickel Cobalt, keduanya HPAL plant yang kami sudah beroperasi di Pulau Obi,” ucap Roy.

Pasokan dari satu jalur CKM ini langsung dialokasikan untuk memenuhkan keperluan operasional dua unit HPAL eksisting milik perusahaan yang diurusi oleh anak usaha, PT Halmahera Persada Lygend (HPL) dan PT Obi Nickel Cobalt (ONC).

Terkini