JAKARTA - Perusahaan yang memproduksi kemasan plastik fleksibel, PT Trias Sentosa Tbk. (TRST), mengincar kenaikan nilai penjualan di kisaran level high single digit sampai dengan penutupan tahun ini.
Rencana ekspansi tersebut bakal disokong penuh oleh geliat pemulihan volume pengiriman ekspor di tengah kondisi pergerakan nilai tukar rupiah yang terpantau masih melemah.
Menurut penjelasan dari Komisaris Trias Sentosa, Sugeng Kurniawan, fundamental operasional dari emiten manufaktur ini dinilai masih berada dalam koridor yang tangguh dan kuat.
Penilaian tersebut tetap berlaku meskipun pihak internal perseroan sempat mencatatkan pembukuan nilai rugi bersih non-operasional senilai Rp49 miliar pada tahun 2025 akibat dari unrealized forex loss mata uang euro terhadap dolar AS.
“Sepanjang 2025, TRST sukses mengantongi pendapatan sebesar Rp3,74 triliun, tumbuh dari posisi 2024 senilai Rp3,42 triliun. Pertumbuhan kinerja sepanjang tahun lalu didorong oleh penetrasi pasar domestik yang tumbuh di level single digit serta lonjakan pasar ekspor yang melesat double digit," ujarnya di Surabaya, dikutip Kamis (2/7/2026).
Lebih lanjut, dia menguraikan bahwa tren penurunan tingkat harga komoditas bahan baku resin global pada periode tahun lalu ikut mendongkrak perolehan laba kotor perusahaan ke posisi Rp427 miliar.
Kondisi tersebut secara otomatis turut mendorong laju pertumbuhan EBITDA perseroan sebesar 24,25 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp497 miliar.
Melangkah pada tahun berjalan 2026, Sugeng mengonfirmasi jika aktivitas operasional di area pabrik sama sekali tidak dihadapkan pada kendala hambatan rantai pasok.
Padahal, situasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah sempat memicu terjadinya penutupan jalur Selat Hormuz yang berimbas pada pembatasan pasokan material resin berbasis minyak mentah.
Fenomena kelangkaan pasokan barang di pasar tersebut justru mampu dikonversi secara positif oleh pihak perusahaan untuk mengamankan ceruk pasar yang ditinggalkan oleh produk-produk impor.
Sebagai dampaknya, sepanjang periode kuartal I/2026, perseroan berhasil membukukan lonjakan raihan laba usaha yang masif hingga menyentuh 526 persen YoY, disusul oleh kenaikan laba bruto sebesar 25 persen dan pertumbuhan EBITDA sebesar 26 persen.
“Kami tidak mengalami gangguan supply. Penurunan pasokan barang impor di dalam negeri justru meningkatkan permintaan domestik terhadap produk kami. Strategi kontrak jangka panjang dengan porsi 60% hingga 70% juga membantu menstabilkan volume,” jelasnya.
Di samping itu, dirinya turut memberikan respons yang positif atas pergerakan harga komoditas minyak mentah dunia yang mulai bergerak landai ke kisaran level US$70 per barel sepanjang kuartal II/2026.
Penurunan harga di pasar global tersebut secara berkala ikut mereduksi beban ongkos bahan baku industri plastik di sektor hulu.
“Menyiasati fluktuasi kurs rupiah yang cenderung melemah terhadap dolar AS, TRST berkomitmen memperluas bauran penjualan ke pasar internasional [export-oriented] guna memitigasi risiko sekaligus mengamankan devisa hasil ekspor,” ungkapnya.
Sampai dengan saat ini, andil dari kontribusi pasar internasional tercatat berada di kisaran 40 persen terhadap keseluruhan total omzet penjualan bersih perusahaan.
Adapun untuk negara yang menjadi target tujuan ekspor utama dari perusahaan meliputi wilayah Jepang, Amerika Serikat, hingga beberapa kawasan potensial di Asia non-Jepang.
Pihak manajemen kini mematok target agar porsi andil dari pasar ekspor bisa merangkak pulih menuju level prapandemi yang sempat menorehkan rasio di kisaran angka 45 persen sampai dengan 55 persen.
Demi mengejar capaian target tersebut, TRST tengah mengkaji peluang pemulihan volume pengiriman barang menuju pasar Australia yang mulai memperlihatkan sinyal perbaikan permintaan.
Selain itu, perusahaan juga aktif mengeksplorasi potensi penetrasi baru ke kawasan Eropa sebagai langkah taktis menyubstitusi pasar Turki yang sedang lesu akibat depresiasi mata uang lokal mereka.
“Meningkatkan porsi penjualan dalam mata uang asing menjadi prioritas untuk mengurangi kolam risiko (risk pool) perseroan. Hingga akhir tahun, kami optimistis kontribusi ekspor minimal di level 40% sudah cukup sehat untuk menopang profitabilitas,” tuturnya.