JAKARTA - Emiten perkebunan kelapa sawit PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) mencatatkan pertumbuhan nilai penjualan yang positif sepanjang periode kuartal I/2026.
Namun, laju kenaikan omzet tersebut terpantau belum sanggup mendongkrak perolehan laba bersih perusahaan lantaran adanya pembengkakan biaya produksi serta beban pokok penjualan yang menggerus margin keuntungan.
Berdasarkan dokumen penjelasan resmi manajemen kepada pihak Bursa Efek Indonesia (BEI), angka penjualan NSSS tercatat merangkak naik 8,55 persen secara tahunan.
Nilai penjualan tersebut bertengger di posisi Rp517,13 miliar hingga periode Maret 2026 jika dibandingkan dengan raihan Rp476,41 miliar pada kurun waktu yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, perolehan laba bersih perusahaan justru terpantau menyusut sebesar 12,57 persen menjadi berkisar di angka Rp141,77 miliar.
Sementara itu, porsi dari margin laba bruto emiten ikut tertekan ke level 44,13 persen akibat dipicu oleh lonjakan pos beban pokok penjualan sebesar 25,78 persen.
Pihak manajemen menguraikan bahwa penurunan laba bersih ini bersumber dari pergerakan beban pokok penjualan yang melaju jauh lebih tinggi ketimbang realisasi pertumbuhan omzet penjualan.
"Kondisi tersebut dipicu meningkatnya biaya produksi langsung, mulai dari biaya pemeliharaan tanaman, pemupukan, hingga pembelian bahan baku," tulis manajemen dikutip, Kamis (2/7/2026).
Volume aktivitas pembelian komoditas Tandan Buah Segar atau TBS milik pihak ketiga juga dilaporkan mengalami lonjakan yang cukup signifikan.
Sepanjang periode Maret 2026, NSSS tercatat mengamankan pasokan sekitar 11.627 ton TBS, melonjak tajam dari posisi Maret 2025 yang hanya berada di kisaran 3.867 ton.
Pertumbuhan volume pasokan bahan baku yang masif tersebut secara otomatis ikut mengerek naik alokasi pengeluaran operasional pengolahan milik perseroan.
Selain faktor volume, tren harga pembelian untuk komoditas TBS di tingkat pasar juga terpantau mengalami grafik kenaikan yang cukup tinggi.
Nilai harga rata-rata dari TBS merangkak naik dari posisi awal kisaran Rp3.119 per kilogram pada Maret 2025 menjadi sebesar Rp3.462 per kilogram pada Maret 2026.
Kondisi tersebut membuat pos biaya pemenuhan bahan baku melonjak, walaupun di sisi lain berdampak positif mendongkrak volume produksi Crude Palm Oil (CPO) serta Palm Kernel (PK).
Pihak perseroan menegaskan bahwa langkah peningkatan volume pembelian komoditas TBS dari pihak eksternal sengaja ditempuh demi mengoptimalkan utilisasi pabrik kelapa sawit.
Kapasitas operasional pabrik pengolahan milik emiten sendiri saat ini dilaporkan telah berhasil ditingkatkan hingga menyentuh level 720.000 ton per tahunnya.
Melalui penerapan strategi taktis ini, perseroan berharap bisa memaksimalkan hasil produksi CPO dan PK agar volume penjualan di pasar tetap berada dalam tren pertumbuhan.
Demi mengawal tingkat profitabilitas di masa depan, manajemen NSSS kini tengah menyiapkan sederet langkah mitigasi strategis demi menjaga performa keuangan.
Langkah tersebut di antaranya mendongkrak produktivitas kebun lewat efisiensi pemeliharaan tanaman dan pemupukan, serta memperluas area panen yang diselaraskan dengan usia produktif tanaman.
Perseroan juga akan mengoptimalkan tingkat utilisasi pabrik pengolahan serta menerapkan sistem selektif yang ketat dalam mengeksekusi rencana agenda investasi aset baru.
Selain itu, manajemen berkomitmen melanjutkan program penanaman baru berdasarkan ketersediaan dana internal serta memperkuat tata kelola arus kas demi menjaga stabilitas modal kerja.
Dari aspek pemasaran, NSSS menjamin seluruh proses transaksi dagang bersama jajaran mitra pelanggan utama tetap dieksekusi secara wajar sesuai prinsip arm's length.
Skema penentuan harga jual produk akan selalu merujuk pada pergerakan harga pasar terkini serta poin kontrak penjualan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Emiten perkebunan ini juga bakal mengandalkan instrumen kontrak kemitraan jangka panjang guna mengamankan kontinuitas serta stabilitas volume penjualan ke depan.
Kendati perolehan laba bersih sempat tertekan pada awal tahun, manajemen NSSS menegaskan tetap menaruh rasa optimis yang tinggi terhadap prospek bisnis kelapa sawit.
Manajemen memproyeksikan tingkat permintaan pasar terhadap produk turunan kelapa sawit akan tetap kuat dan terjaga untuk jangka menengah hingga jangka panjang.
Keyakinan tersebut ikut didukung oleh kebijakan mandatori program biodiesel B40 dari pemerintah serta rencana perluasan menuju B50 yang dipercaya mampu memperkokoh konsumsi domestik.