JAKARTA - Emiten PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) secara resmi menetapkan nominal harga pelaksanaan agenda rights issue sebesar Rp5.000 per lembar saham.
Melalui ketetapan harga tersebut, akumulasi target dana segar maksimal yang berpotensi dikumpulkan oleh perseroan ditaksir menembus angka Rp3,60 triliun.
Korporasi berkode saham SINI ini menjadwalkan program penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD I) guna membiayai akuisisi unit usaha pertambangan milik PT Petrosea Tbk. (PTRO).
Mengacu pada lembar dokumen prospektus paling baru, pihak SINI siap meluncurkan sebanyak-banyaknya 721,50 juta unit saham biasa atas nama dengan patokan nilai nominal Rp100.
Porsi pelepasan saham tersebut setara dengan jatah 60 persen dari total volume modal yang ditempatkan serta disetor penuh oleh perseroan pasca-agenda PMHMETD I bergulir.
Menggunakan landasan harga pelaksanaan HMETD sebesar Rp5.000, SINI berpeluang mengantongi kucuran dana baru hingga batas tertinggi Rp3,60 triliun lewat aksi korporasi ini.
Untuk kepastian rasionya, ketetapan HMETD dirancang pada perbandingan 2:3, yang berarti bagi setiap pemilik 2 saham lama akan diganjar hak atas 3 HMETD, dengan ketentuan 1 HMETD berlaku untuk penebusan 1 saham baru.
"Pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya dapat mengalami penurunan persentase kepemilikan (dilusi) yaitu sampai dengan maksimum sebesar 60%," tulis SINI, dikutip Jumat (3/7/2026).
Lebih dalam lagi, korporasi mengonfirmasi adanya keterlibatan pihak pembeli siaga di dalam aksi rights issue ini, yakni PT Petrosea Tbk. (PTRO).
Di samping itu, instansi PT Henan Putihrai Sekuritas (HPS) bersama PT Trimegah Sekuritas Tbk. (TRIM) ditunjuk mengemban peran sebagai pihak penampung sisa emisi saham baru pasca-fase eksekusi oleh para pemilik HMETD selesai.
Pihak manajemen SINI menguraikan alokasi dana segar hasil bersih PMHMETD I mula-mula disiapkan sebesar Rp1,51 triliun guna mengambil alih 99,995 persen kepemilikan saham pada perusahaan tambang PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) dari PT Petrosea Tbk. (PTRO).
Selanjutnya, alokasi anggaran senilai Rp900 miliar bakal dialihkan untuk melunasi sisa kewajiban pokok utang perseroan kepada pihak kreditur secara lebih dini.
Kemudian untuk anggaran senilai Rp1,18 triliun ditargetkan mengalir menjadi bentuk fasilitas pinjaman dana bagi unit perusahaan anak, sementara sisa dana Rp10 miliar dipisahkan untuk pos modal kerja.
Dari sisi struktur investor, PT Autum Prima Indonesia (API) selaku pengendali utama SINI dengan porsi 30 persen mengonfirmasi siap mengeksekusi sebagian HMETD jatahnya sebesar 60.000.000 HMETD setara Rp300 miliar.
Di luar itu, API bakal menyerahkan kepemilikan 8.205.000 HMETD bernilai Rp41,02 miliar kepada PT Deli Indonesia Raya (DIR).
Ada pula jatah sejumlah 48.500.000 HMETD senilai Rp242,50 miIiar yang dialihkan menuju HPS, serta porsi 39.500.000 HMETD setara nilai Rp197,50 miliar dilempar kepada pihak TRIM.
Sebaliknya, Batubara Development Pte. Ltd. (BBD) selaku pemilik 15,49 persen saham SINI memilih absen mengeksekusi haknya.
BBD memilih menyerahkan hak HMETD bernilai Rp450 miliar ke Ever Grace International Trading Limited, serta porsi HMETD senilai Rp108,97 miliar dialihkan menuju DIR.
Sementara itu, figur Hapsoro selaku pemilik 9 persen saham SINI juga menyatakan absen mengeksekusi jatah HMETD miliknya.
Ia memlih memindahtangankan 9.000.000 HMETD bernilai pelaksanaan Rp45 miliar untuk ditampung oleh pihak TRIM.
Terakhir, PT Kreasi Jasa Persada (KJP) yang memegang kepemilikan saham SINI sebesar 19,74 persen dilaporkan melempar seluruh hak HMETD miliknya dengan taksiran nilai Rp712,05 miliar kepada PTRO.