Pilih Inhaler atau Nebulizer untuk Atasi Asma pada Anak

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:54:01 WIB
Ilustrasi anak asma.

JAKARTA - Asma pada anak merupakan penyakit pernapasan kronis jangka panjang yang memerlukan penanganan telaten, baik saat terjadi serangan sesak maupun pengobatan harian.

Sempat muncul perdebatan di media sosial mengenai penggunaan inhaler yang dianggap lebih cepat meredakan gejala asma dibandingkan nebulizer.

Ketua UKK Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Wahyuni Indawati, Sp.A., Subsp. Respi(K), meluruskan bahwa efektivitas kedua alat tersebut sangat bergantung pada situasi.

"Kalau gejalanya ringan, kami enggak bisa bilang inhaler lebih cepat," terang dr. Wahyuni. "Inhaler dan nebulizer itu sama baiknya, dengan catatan penggunaan inhaler harus menggunakan alat bantu spacer," katanya.

Metode konvensional seperti obat puyer atau sirup asma termasuk pengobatan sistemik yang berisiko memunculkan efek samping jika digunakan dalam jangka panjang.

Sebaliknya, obat yang dihirup langsung menembus sistem respiratori tanpa melalui peredaran darah sehingga dosisnya 1.000 kali lebih kecil dibandingkan obat minum.

Beberapa orangtua mungkin cemas bahwa alat uap menandakan tingkat keparahan penyakit atau memicu ketergantungan, namun faktanya terapi inhalasi adalah pengobatan utama.

"Jadi kadang-kadang untuk orangtua yang masih belum paham, saya selalu jelaskan justru dengan terapi inhalasi itu akan lebih aman untuk anaknya dibandingkan dengan terapi obat minum," tambah dr. Wahyuni.

Inhaler atau Metered Dose Inhaler (MDI) memang ringkas, namun kelemahannya adalah menuntut koordinasi napas yang presisi dan sulit dilakukan oleh balita.

Oleh karena itu, penggunaan inhaler pada anak wajib disambungkan dengan spacer agar aerosol tertampung dan anak bisa bernapas normal tanpa perlu menyinkronkan tarikan napas.

"Dari penelitian menunjukkan bahwa, dibandingkan antara yang sekarang bisa mesh nebulizer dengan MDI dengan spacer, itu efektivitasnya sama," ungkap dr. Wahyuni.

Nebulizer memegang peranan krusial saat anak mengalami serangan asma parah di mana saluran napas menyempit dan tertutup mukus.

"Kalau dia serangannya lagi berat, kami enggak bisa pakai MDI dengan spacer, harus dengan menggunakan nebulizer. Karena anaknya buat napas aja udah megap-megap," tegas dr. Wahyuni.

Untuk pengobatan harian, kini tersedia teknologi mesh nebulizer nirkabel yang senyap dan portabel sehingga memudahkan orangtua melakukan terapi di rumah.

"Kalau kami menggunakan terapi yang setiap hari, tentu kami memerlukan alat yang praktis. Orangtua dua kali sehari bosan itu kalau alatnya susah," pungkas dr. Wahyuni.

Terkini