BPS Catat Inflasi Kota Yogyakarta Juni 2026 Sebesar 0,46 Persen

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:27:01 WIB
Antrian panjang di BBM Subsidi.

JAKARTA - Melonjaknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bertindak sebagai komoditas pendorong utama atas terciptanya inflasi di wilayah Kota Yogyakarta sepanjang bulan Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta mengumumkan, angka inflasi Kota Yogyakarta pada Juni 2026 menyentuh 0,46 persen secara bulanan (month to month/mtm).

Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno mengutarakan, sektor transportasi menyumbang andil inflasi paling masif dengan grafik inflasi menyentuh angka 2,65 persen serta menyokong andil 0,41 persen terhadap angka inflasi umum. Berdasarkan pemaparannya, komoditas bensin tampil sebagai pemicu terbesar lahirnya inflasi pada bulan Juni.

"Komoditas yang memberikan andil terbesar adalah bensin akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi pada bulan Juni. Selain itu, tarif kereta api dan tarif angkutan udara juga mengalami kenaikan," katanya, Rabu, 1 Juli 2026.

BPS memaparkan, secara tahunan sektor transportasi masih menempati posisi yang signifikan terhadap inflasi tahunan dengan sokongan 0,73 persen, yang lagi-lagi dipicu oleh naiknya harga bensin. Sementara itu, penyumbang paling masif berasal dari kluster Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan sumbangan 0,94 persen, khususnya akibat efek kenaikan harga emas perhiasan.

Menurut penuturan Joko, imbas dari kenaikan harga BBM mulai direspons lewat meningkatnya ketetapan tarif pada beragam lini moda transportasi. Di sisi lain, tekanan nilai jual pada kluster pangan terpantau relatif lebih terkendali.

"Beberapa komoditas pangan bahkan mengalami penurunan harga karena memasuki musim panen. Cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang mengalami penurunan harga. Namun, bawang merah, bawang putih, wortel, dan pelumas masih mencatat kenaikan harga selama di bulan Juni," ucapnya.

Secara hitungan bulanan, inflasi pada bulan Juni tercatat bergerak lebih tinggi jika disandingkan dengan perolehan Mei 2026 yang berada di angka 0,20 persen. Walakin, secara tahunan angka inflasi Kota Yogyakarta sebesar 3,18 persen dinilai masih berada dalam koridor target pemerintah, yakni 2,5 persen ±1 persen atau bertengger pada rentang 1,5–3,5 persen.

Sementara itu, untuk raihan inflasi kumulatif dari periode Januari hingga Juni 2026 dilaporkan menyentuh angka 1,57 persen. Pihak BPS mengalkulasi capaian tersebut masih berada pada jalur yang aman asalkan tren pergerakan inflasi tetap terkendali dengan baik sampai tutup tahun.

Melangkah ke bulan Juli 2026, instansi BPS memberikan sinyal kewaspadaan perihal adanya potensi lonjakan harga dari kluster pendidikan seiring dengan bergulirnya kalender tahun ajaran baru. Komponen biaya sekolah, penebusan buku, atribut seragam, hingga perlengkapan sekolah diproyeksikan menjadi komoditas yang harus dipantau.

Selain hal itu, banderol daging sapi juga mulai memperlihatkan tren peningkatan di tingkat pedagang pasca-naiknya harga sapi hidup. Namun, menurut Joko, imbasnya terhadap inflasi Kota Yogyakarta masih relatif minim lantaran tingkat konsumsi masyarakat lebih didominasi oleh daging ayam beserta telur.

Pada lini yang berbeda, sektor pariwisata memperlihatkan kurva perkembangan yang positif. Pada bulan Mei 2026, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) untuk hotel kelas berbintang terdokumentasikan sebesar 61,76 persen, sedangkan untuk hotel kelas non-bintang menyentuh 34,17 persen. Rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di hotel berbintang berada di angka 1,59 malam, sementara hotel non-bintang 1,22 malam.

“Komposisi tamu hotel juga masih didominasi wisatawan domestik, yakni 95,94 persen, sedangkan wisatawan mancanegara mencapai 4,06 persen,” katanya, menambahkan.

Melonjaknya persentase okupansi penginapan tersebut dipicu oleh banyaknya momentum hari libur nasional serta akhir pekan panjang sepanjang Mei. Pihaknya memproyeksikan tingkat hunian kamar hotel berpeluang besar kembali terangkat pada Juni sejalan dengan momen libur sekolah.

"Kami bisa lihat lagi nanti di bulan depan seperti apa okupansi di Jogja. Kemungkinan naik lagi," ujarnya, mengakhiri.

Terkini