Brasil Gugur, Ancelotti Ungkap Alasan Penalti Bruno Guimaraes

Senin, 06 Juli 2026 | 04:56:02 WIB
Alasan Ancelotti Pilih Bruno Guimaraes Jadi Eksekutor Penalti [FOTO: NET].

JAKARTA - Juru taktik tim nasional Brasil, Carlo Ancelotti, membeberkan argumentasi di balik ketetapan menunjuk Bruno Guimaraes sebagai eksekutor tendangan penalti tatkala skuad Selecao ditumbangkan 1-2 oleh Norwegia pada putaran 16 besar Piala Dunia 2026, Senin (6/7/2026) pagi WIB. 

Ketetapan tersebut menuai sorotan tajam lantaran eksekusi penalti Bruno Guimaraes pada paruh pertama mampu dibaca dan dihalau oleh penjaga gawang Norwegia, Orjan Nyland. Momentum kegagalan tersebut selanjutnya menjelma menjadi salah satu titik balik yang mengakibatkan Brasil terdepak lebih awal dari panggung Piala Dunia 2026.

Pertanyaan pun mencuat mengenai dasar pemilihan Bruno Guimaraes yang didelegasikan mengemban tugas tersebut, mengingat Timnas Brasil sejatinya diperkuat pilar lain seperti Vinicius Junior yang tengah merumput di lapangan. 

Walau begitu, Ancelotti memberikan klarifikasi bahwa ketetapan tersebut sama sekali tidak didasarkan pada intuisi semata, melainkan merupakan kalkulasi data statistik yang sudah dipersiapkan secara matang oleh tim kepelatihan.

"Menurut data kami, Neymar adalah penendang penalti terbaik, kemudian Raphinha, Igor Thiago, lalu Bruno Guimaraes," ujar Ancelotti.

"Karena itu kami memilih Bruno, sebab dia adalah pemain dengan peringkat tertinggi yang berada di lapangan saat itu. Setelah Bruno, berikutnya adalah Gabriel Martinelli," lanjut pelatih asal Italia tersebut.

Brasil kesulitan membongkar lini pertahanan Norwegia

Dalam jalannya bentrokan tersebut, sosok Neymar dan Raphinha memang tidak diturunkan sejak menit pertama sebagai starter. Situasi itu otomatis menempatkan Bruno Guimaraes menjadi opsi utama bersandarkan pada urutan algojo penalti yang telah diformulasikan oleh tim pelatih.

Kendati mendominasi jalannya laga dalam banyak fase, Brasil menemui tembok tebal untuk membongkar organisasi pertahanan disiplin milik Norwegia. Ancelotti memaparkan, skuadnya secara sengaja tidak melancarkan tekanan yang terlampau agresif lantaran berupaya meminimalisasi risiko skema serangan balik cepat dari kubu lawan.

"Pada awal pertandingan saya melihat kami bermain cukup terkendali dan mampu menciptakan peluang," kata Ancelotti.

"Sulit untuk terus memberikan tekanan karena Norwegia bertahan sangat rapat. Jika terlalu memaksakan serangan, risikonya justru semakin besar," tambahnya.

Neymar pada akhirnya diturunkan pada paruh kedua, tepat ketika memasuki jeda turun minum. Kehadiran dirinya sanggup menghidupkan alur gempuran Brasil sekaligus memicu gemuruh sambutan yang luar biasa dari bangku penonton. Namun demikian, sebelum skuad Brasil berhasil menyamakan kedudukan, Erling Haaland sukses melesakkan sepasang gol pada menit ke-79 dan 90 untuk mengantarkan Norwegia memimpin 2-0.

Neymar sejatinya sempat menipiskan selisih skor lewat eksekusi penalti pada periode injury time. Sayangnya, gol balasan tersebut hanya berakhir menjadi sekadar hiburan lantaran Brasil tetap dipaksa menyerah dengan skor 1-2 dan gagal melenggang ke fase perempat final. Hasil minor ini juga menyebabkan Brasil harus tersisih sebelum menyentuh fase delapan besar Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak pagelaran edisi 1990 silam.

Walau mendulang hasil yang mengecewakan, Ancelotti secara tegas enggan melemparkan kesalahan kepada Bruno Guimaraes atas kegagalan mengeksekusi penalti tersebut. Sebaliknya, eks juru taktik Real Madrid itu memberikan pandangan bahwa Brasil sudah sepatutnya mengawali langkah regenerasi, khususnya pada sektor pos lini tengah.

"Kami membutuhkan talenta-talenta muda. Kami membutuhkan lebih banyak pemain berkualitas tinggi yang muncul dari sepak bola Brasil," ujar Ancelotti.

"Saya rasa kami sudah melakukan pekerjaan yang solid. Namun, begitulah sepak bola dan olahraga. Terkadang Anda harus menerima kekalahan," tutupnya.

Terkini