Alasan Mengapa Rutinitas Makan Bersama Baik untuk Kesehatan Mental

Senin, 06 Juli 2026 | 06:16:02 WIB
Ilustrasi Makan Bersama.

JAKARTA - Aktivitas menyantap hidangan secara berkelompok merupakan wujud interaksi sosial mendasar yang kerap dijalankan, baik demi merayakan momen spesial maupun sekadar menghabiskan malam di rumah bersama keluarga. Di samping fungsi praktisnya sebagai sarana berkumpul, duduk dan menikmati makanan pada meja yang sama rupanya membawa khasiat besar untuk kebugaran tubuh.

Walau sesekali menikmati makanan seorang diri bagus demi melatih kemandirian, agenda makan bersama dipandang jauh lebih berfaedah secara psikologis. Praktisi terapi trauma somatik Chloë Bean, LMFT, menyebutkan bahwa minimnya jalinan komunikasi bahkan kerap diasosiasikan dengan merosotnya status kesehatan secara umum.

"Makan bersama bisa membuat interaksi sosial terasa lebih alami dan tidak dipaksakan. Kamu bisa memasak bersama, membawa makanan untuk berbagi, mencoba restoran baru, atau berbagi hidangan di meja," ujar Bean, menyadur Real Simple, Senin (6/7/2026).

Setiap bentuk komunikasi antarmanusia memang mendatangkan manfaat, namun atmosfer di meja makan menyajikan keunikan tersendiri karena sanggup mereduksi perasaan terkucilkan. Pengalaman kolektif yang sederhana ini memicu tiap orang merasa lebih dihargai, sekaligus memupuk memori kolektif yang lambat laun mengikis rasa sepi.

Secara alamiah, Bean menerangkan bahwa jalinan relasi berkelompok telah sejak lama menjadi kunci utama bagi manusia untuk bertahan hidup. Secara biologis, manusia dirancang untuk saling terikat satu sama lain, di mana berkelompok memperbesar peluang bertahan hidup, sedangkan kesendirian diidentikkan dengan ancaman.

"Karena itu, sistem saraf bisa menafsirkan isolasi kronis sebagai suatu tekanan atau ketidakamanan pada tingkat biologis yang lebih dalam," jelas Bean.

Fenomena ini diperkuat lewat rupa-rupa kajian ilmiah yang memperlihatkan kebiasaan berkumpul di meja makan sangat efektif menghalau rasa sepi sekaligus mendongkrak kebahagiaan kaum lansia. Berbagi makanan juga menjadi momentum ideal guna menjaga keharmonisan, yang menurut terapis Pam Skop mampu menghadirkan ruang diskusi yang bersahabat.

"Momen-momen ini menciptakan hubungan sosial karena memberikanmu kesempatan alami untuk mengobrol dan bertukar pikiran," jelas Skop.

"Kamu saling bertanya bagaimana harimu, bagaimana makanannya, apa yang mereka suka atau tidak, dan apakah mereka ingin tambah lagi. Hal ini juga menciptakan momen di mana seseorang mengingat selera orang lain di meja itu," tambah Skop.

Konsistensi dari pola komunikasi seperti inilah yang pada akhirnya membentuk pondasi ikatan batin yang kuat, di mana Bean mengimbuhkan bahwa waktu makan sanggup melahirkan ritus yang kokoh bagi sebuah kebersamaan. Agenda bersantap kolektif ini pun melatih kepekaan komunikasi dua arah secara natural.

"Kita sering bergiliran mengajukan pertanyaan, berbagi cerita, dan mendengarkan," kata Skop.

Bean memberikan permisalan tentang pemanfaatan topik obrolan ringan, semisal menanyakan kelezatan menu yang dihidangkan, yang mana pertanyaan simpel tersebut mampu membuka ruang bagi perbincangan yang lebih mendalam, kenangan, serta rasa ingin tahu.

Lebih jauh, Skop menilai kebiasaan ini sebagai sarana melatih ketegasan personal, misalnya saat menepis ajakan menambah porsi makanan. Tindakan tersebut barangkali terkesan remeh, namun efektif menumbuhkan kepercayaan diri untuk menerapkan batasan pada aspek kehidupan yang lain.

Sisi kenyamanan yang terbangun di tengah waktu makan akan merelaksasi ketegangan saraf jasmani sekaligus menstimulasi otak memproduksi hormon kebahagiaan. Berbagi makanan memperbaiki suasana hati lantaran seseorang tidak sekadar makan, melainkan tengah merajut sebuah kedekatan.

Saat individu merasa terlindungi dan relaks di dekat orang lain, sistem saraf akan menjadi lebih tenang, sehingga tubuh mendapat kans untuk keluar dari fase penat menuju kondisi yang lebih tenteram demi beristirahat sekaligus mencerna asupan.

"Makanan itu sendiri memberi kita dopamin, bahan kimia yang terlibat dalam motivasi dan kesenangan, sedangkan interaksi sosial mengaktifkan oksitosin dan endorfin, yang terlibat dalam ikatan, kepercayaan, dan kedekatan," kata Skop.

Terkini