Survei Perbanas Catat Lonjakan Adopsi AI di Industri Perbankan

Rabu, 08 Juli 2026 | 00:58:31 WIB
Ilustrasi artificial intelligence (AI).

JAKARTA - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) saat ini tidak lagi dipandang sebagai sekadar pelengkap inovasi teknologi di dalam industri perbankan.

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, AI justru mulai menjadi fondasi baru bagi transformasi digital yang mengubah cara bank melayani nasabah, mengelola risiko, hingga mengambil keputusan bisnis.

Survei Perbanas bersama IBM menunjukkan tingkat adopsi AI di industri perbankan meningkat signifikan, dari sekitar 30% pada 2024 menjadi 42% pada 2025.

Angka tersebut kemudian melonjak menjadi 57,9% pada kuartal I/2026.

Kenaikan hampir dua kali lipat dalam kurun waktu dua tahun itu menjadi sinyal bahwa industri perbankan mulai memasuki fase baru transformasi digital.

Fase ini memosisikan AI sebagai kebutuhan strategis untuk meningkatkan daya saing, bukan lagi sekadar proyek inovasi.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan AI telah menjadi bagian penting dari transformasi digital industri perbankan.

Menurutnya, pemanfaatan AI mampu meningkatkan efisiensi operasional, produktivitas, sekaligus memperbaiki pengalaman nasabah.

Di sisi lain, penerapan teknologi tersebut tetap harus dilakukan dengan mengedepankan tata kelola yang baik serta kepatuhan terhadap regulasi.

“Perkembangan ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian penting dari transformasi digital industri perbankan dalam meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan pengalaman nasabah,” kata Dian dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Wholesale KB Bank Widodo Suryadi.

Menurut dia, peningkatan adopsi AI merupakan sebuah keniscayaan bagi industri perbankan.

“Adopsi AI bukan lagi sekadar tren, tetapi sudah menjadi keharusan secara strategis,” ujar Widodo dalam diskusi bersama media di Jakarta Selatan, Kamis (2/7/2026).

Meski demikian, KB Bank memilih menerapkan AI secara bertahap.

Perseroan tidak langsung mengimplementasikan teknologi tersebut secara masif, melainkan memulai dari area yang mampu memberikan manfaat nyata bagi bisnis.

Widodo menjelaskan bank lebih dahulu menerapkan AI untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan bisnis.

Langkah ini dilakukan antara lain melalui pemindaian laporan keuangan, analisis mutasi rekening koran, hingga sistem pendeteksi anomali (fault detection system).

Hasil analisis tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk menilai kelayakan calon debitur maupun pemberian tambahan fasilitas kredit, termasuk pada segmen UMKM dan kredit pemilikan rumah (KPR).

Menurutnya, implementasi AI harus didukung kesiapan infrastruktur teknologi, keamanan data, serta kepatuhan terhadap ketentuan OJK sebelum diperluas ke fungsi bisnis lainnya.

“Bagi kami keberhasilan AI bukan diukur dari seberapa masif implementasinya, tetapi seberapa besar dampak nyata terhadap kualitas layanan dan pengalaman nasabah,” katanya.

Direktur Allo Bank Ganda Raharja Rusli menilai lonjakan adopsi AI didorong oleh kebutuhan strategis industri untuk bertahan sekaligus memenangkan persaingan.

Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang mempercepat implementasi AI.

Pertama, meningkatnya kebutuhan menghadirkan layanan hyper-personalization seiring ekspektasi nasabah terhadap layanan yang semakin spesifik.

Melalui AI, bank mampu menganalisis perilaku transaksi, pola pengeluaran, hingga preferensi nasabah secara real time sehingga produk maupun promosi yang ditawarkan menjadi lebih relevan bagi setiap individu.

Kedua, tekanan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan menekan biaya mendorong bank mengotomatisasi berbagai proses bisnis.

Ketiga, AI memperkuat manajemen risiko melalui kemampuan mendeteksi transaksi mencurigakan secara hampir real time sekaligus mempercepat proses credit scoring, terutama bagi segmen UMKM maupun masyarakat yang belum memiliki riwayat kredit konvensional.

Selain itu, kematangan teknologi generative AI sepanjang 2025 hingga 2026 juga membuat implementasi AI menjadi semakin mudah dilakukan oleh industri.

Meski demikian, Ganda menilai implementasi AI di perbankan masih berada pada tahap awal.

Sehingga dampaknya terhadap efisiensi operasional maupun peningkatan kualitas layanan masih memerlukan waktu untuk terlihat secara menyeluruh.

“Saat ini masih cukup awal untuk melihat perubahan model bisnis dan daya saing industri perbankan sebagai hasil dari penerapan AI dalam perbankan, namun dampak awal bisa terlihat dari efisiensi operasional,” tutur Ganda kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (7/7/2026).

Sementara itu, Staf Riset Ekonomi Makro BTN Myrdal Gunarto menilai lonjakan adopsi AI menandai pergeseran transformasi digital perbankan ke fase baru yang disebut sebagai cognitive banking.

Menurutnya, apabila transformasi digital pada dekade sebelumnya berfokus memindahkan layanan ke kanal digital seperti mobile banking, maka fase saat ini bertujuan membuat sistem digital mampu berpikir, memprediksi, serta membantu pengambilan keputusan secara lebih cerdas.

Perubahan tersebut tecermin dari meningkatnya investasi bank pada infrastruktur data, komputasi awan, hingga lisensi AI.

Di sisi lain, layanan kepada nasabah juga semakin mengarah pada personalisasi secara masif berdasarkan perilaku transaksi masing-masing individu.

Selain itu, industri mulai membutuhkan talenta baru seperti data scientist, AI engineer, hingga ahli tata kelola data untuk mendukung implementasi teknologi tersebut.

Menurut Myrdal, keseimbangan antara inovasi dan perlindungan data menjadi syarat utama agar transformasi tersebut berjalan berkelanjutan.

Sementara itu, Direktur BCA Syariah Pranata mengatakan pihaknya memanfaatkan AI sebagai solusi untuk meningkatkan efektivitas proses kerja, terutama dalam penguatan keamanan sistem dan analisis data.

Namun demikian, dia menegaskan layanan perbankan tetap membutuhkan sentuhan manusia yang tidak dapat sepenuhnya digantikan teknologi.

“Kami meyakini AI akan bersinergi dengan layanan yang humanis sehingga mampu meningkatkan keandalan produk dan layanan perbankan syariah,” ujar Pranata kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (7/7/2026).

Di balik lonjakan adopsi AI, sejumlah tantangan masih membayangi industri.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai kenaikan tingkat adopsi AI menunjukkan bank mulai beralih dari otomatisasi sederhana menuju pemanfaatan generative AI dan agentic AI yang berpotensi mengubah model bisnis perbankan.

Menurutnya, teknologi tersebut dapat mempercepat proses intermediasi melalui credit scoring berbasis data nontradisional sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Namun, dia mengingatkan bahwa transformasi AI tidak boleh berhenti pada peningkatan statistik adopsi semata.

Industri masih menghadapi tantangan berupa tata kelola AI yang belum matang, kualitas data dan infrastruktur legacy, kesenjangan kemampuan SDM, besarnya kebutuhan investasi, belum jelasnya ukuran pengembalian investasi (ROI), hingga ketergantungan terhadap vendor teknologi asing yang berkaitan dengan keamanan siber dan kedaulatan data.

“Karena tanpa itu semua lompatan angka adopsi berisiko menjadi statistik yang belum berarti,” pungkasnya.

Terkini