JAKARTA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy meminta Bio Farma untuk melakukan langkah modernisasi secara kontinu agar tetap memproduksi vaksin berbasis teknologi paling mutakhir yang sesuai dengan standar World Health Organization (WHO).
“Bio Farma perlu terus melakukan modernisasi agar mampu menghasilkan vaksin dengan teknologi terkini yang memenuhi standar WHO, sehingga kualitas produksi vaksin tidak hanya memenuhi standar nasional, tetapi juga standar internasional yang diakui secara global,” ujarnya saat menerima audiensi Direktur Utama PT Bio Farma Shadiq Akasya, dalam keterangan di Jakarta, Senin.
Menteri Rachmat Pambudy menegaskan komitmen penuhnya dalam menyokong keberlanjutan Program Eliminasi Kanker Serviks yang selama ini diarsiteki oleh Bio Farma berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan serta mitra internasional sejak periode 2016.
Agenda strategis tersebut diinformasikan telah dieksplorasi menjadi program skala nasional pada 2023 dan bakal terus digulirkan sampai dengan tahun 2030, salah satunya melalui pendistribusian vaksin Human Papillomavirus (HPV) untuk anak-anak usia sekolah.
“Intinya, kami mendukung program ini karena merupakan tugas dan amanat Presiden untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang semakin sehat,” kata Kepala Bappenas.
Lebih jauh lagi, Menteri PPN menggarisbawahi urgensi penguatan volume kapasitas produksi komoditas vaksin yang berimbas secara instan pada kesehatan publik, layaknya vaksin polio serta HPV, di mana langkah itu mesti dibersamai dengan modernisasi fasilitas dan lini manufaktur demi menyamai standar mutu global.
Beriringan dengan misi tersebut, manajemen Bio Farma menyodorkan usulan mendirikan infrastruktur fasilitas produksi vaksin baru sebagai bagian dari skema pembaruan industri vaksin domestik yang direkomendasikan masuk menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN).
Infrastruktur penunjang baru ini diproyeksikan mampu menyokong pengadopsian teknologi pembuatan vaksin yang lebih canggih, selaras dengan tolok ukur internasional, sekaligus memperkokoh kompetensi Indonesia dalam memproduksi vaksin secara mandiri.
Langkah digitalisasi dan pembaruan tersebut dinilai sangat krusial demi memelihara daya saing industri farmasi nasional sekaligus memperkuat benteng ketahanan kesehatan Indonesia pada masa depan.
“Keberhasilan suatu Proyek Strategis Nasional tidak hanya ditentukan oleh perencanaannya, tetapi juga oleh kualitas pelaksanaan dan penyelesaiannya. Jadi, harus direncanakan dengan baik, dilakukan dengan baik, dan diselesaikan dengan baik,” ucap Menteri PPN.