JAKARTA - Fenomena muntah kecil atau gumoh sesudah meminum susu kerap kali memicu rasa waswas di kalangan wali murid, khususnya bagi mereka yang baru menimang buah hati perdana. Tidak sedikit dari mereka berasumsi bahwa keadaan itu menjadi indikasi adanya problem pencernaan atau indikasi gangguan medis tertentu.
Kendati demikian, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwasanya mayoritas peristiwa gumoh pada anak merupakan hal lumrah dan menjadi bagian dari fase pematangan organ pencernaan.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi IDAI, dr. Sri Kesuma Astuti, Sp.A., Subsp. G.H.(K), menjelaskan bahwa mayoritas gumoh atau regurgitasi pada bayi bukanlah suatu penyakit. "Gumoh pada bayi atau regurgitasi pada bayi ini ternyata mayoritas atau sebagian besar merupakan suatu proses yang normal terjadi," ujar dr. Sri dikutip dari ANTARA, Selasa (1/7/2026).
Pihaknya menerangkan, pada area antara kerongkongan dan organ lambung terdapat sebuah katup pembatas yang mengontrol agar sari makanan tidak bergerak naik.
Namun, bagian katup pengontrol pada tubuh bayi tersebut memang belum tumbuh secara matang, sehingga cairan susu yang telah ditampung mudah meluap kembali ke atas.
Kondisi ini diperparah lantaran asupan utama bayi di awal kehidupannya berupa zat cair yang sifat pergerakannya jauh lebih dinamis daripada bentuk padat.
Di samping itu, daya tampung lambung seorang balita tergolong sangat terbatas, sehingga volume cairan yang berlebih akan terdorong keluar secara spontan.
Kebiasaan balita yang diposisikan tidur terlentang pasca meminum susu juga disinyalir ikut andil dalam mempercepat laju aliran balik cairan lambung tersebut.
Guna meminimalisasi intensitasnya, para wali dapat menerapkan tips preventif berupa pembatasan asupan susu agar tidak melewati ambang batas kapasitas lambung.
Orang tua juga disarankan jeli membaca sinyal lapar anak, membiasakan proses sendawa pasca menyusu, serta menghindari tekanan pada area perut balita.
Meskipun terhitung sebagai proses fisiologis yang aman, ada kalanya kondisi ini bertransformasi menjadi gejala klinis penyakit lambung atau GERD yang krusial.
Pemeriksaan medis tingkat lanjut wajib segera ditempuh apabila muntahan anak terindikasi bercampur bercak darah atau menghambat kurva pertumbuhan berat badan.
Gejala klinis lain seperti gestur tubuh yang melengkung kaku, rewel berkelanjutan, enggan menyusu, hingga problem ekskresi dan tidur juga patut diwaspadai.