JAKARTA - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mengajak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) guna menyelaraskan program Relawan Mengajar dengan penugasan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026.
Tim Ekspedisi Patriot ialah program bentukan Kementrans yang menyertakan kalangan akademisi muda Indonesia demi mengurai masalah dan melejitkan potensi ekonomi di wilayah transmigrasi. Sementara Relawan Mengajar merupakan program besutan Kemendikdasmen bersama relawan untuk mendampingi kegiatan belajar anak tidak sekolah (ATS).
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menerangkan lewat keterangan resmi di Jakarta, Jumat, bahwa pelaksanaan program TEP fase pertama sudah meluncur pada 2025 kemarin dengan melibatkan mahasiswa, dosen, serta guru besar dari tujuh perguruan tinggi negeri (PTN) rekanan.
Pada tahun ini agenda tersebut bakal mengutus lulusan sarjana, master, doktor, hingga jajaran guru besar dari 10 PTN rekanan serta 157 kampus dalam negeri dan luar negeri, termasuk University of Melbourne, University of Glasgow, dan King’s College London.
“Di lingkup inilah Relawan Mengajar bisa disinergikan,” ujar Viva Yoga Mauladi.
Wamentrans membuka peluang untuk Kemendikdasmen mengenalkan gerakan Relawan Mengajar dalam agenda pembekalan untuk 1.476 peserta lolos Tim Ekspedisi Patriot 2026 yang dijadwalkan bergulir akhir Juli mendatang.
Di luar TEP, Viva mengutarakan jika perbaikan sarana sekolah menjadi agenda Kementrans berikutnya yang sangat terbuka untuk dikolaborasikan bersama Kemendikdasmen.
Dirinya memaparkan, lembaganya telah membenahi fasilitas toilet di dua lembaga pendidikan wilayah Provinsi Gorontalo, yakni Sekolah Dasar Negeri (SDN) 10 Pulubala di Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo dan SDN 14 Sumalata di Kawasan Transmigrasi Sumalata, Kabupaten Gorontalo Utara.
Di sisi lain, Sekolah Dasar Instruksi Presiden (SD Inpres) 13 di Kawasan Transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, memperoleh sokongan perbaikan ruang kelas, toilet, hingga fasilitas air bersih.
“Apa yang dilakukan oleh Kementrans diharap mampu meningkatkan proses pendidikan anak-anak transmigran dan anak-anak masyarakat lain yang menempati kawasan transmigrasi,” ucap Wamentrans Viva.
Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) Rita Pranawati membeberkan ada sekitar 70 ribu sekolah yang memerlukan perbaikan sarana serta prasarana.
Rita mengutarakan, puluhan ribu satuan pendidikan mulai tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) itu memerlukan pengerjaan ataupun perbaikan toilet agar layak digunakan. Di samping itu, muncul juga rekomendasi pendirian rumah dinas untuk guru.
Pihaknya pun berkeinginan membangun kemitraan lintas kementerian demi menanggulangi kendala tersebut, khususnya pada sekolah-sekolah yang berada di wilayah transmigrasi serta kawasan 3T.
Bukan cuma pembangunan sarana fisik saja, Rita Pranawati turut mendukung penuh penerapan program Relawan Mengajar untuk bermacam sekolah di wilayah transmigrasi.