Dampak Negatif Screen Time Berlebihan Terhadap Hormon Tubuh

Dampak Negatif Screen Time Berlebihan Terhadap Hormon Tubuh
Ilustrasi main HP.

JAKARTA - Terlalu lama menatap layar gadget ternyata tidak hanya membawa dampak buruk bagi kesehatan mata, melainkan juga sanggup mengacaukan regulasi sistem hormon di dalam tubuh manusia.

Berdasarkan penjelasan dari Dr. Shobha Gupta selaku Medical Director dan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Mother's Lap IVF Centre, Vrindavan, durasi screen time yang terlalu tinggi, khususnya saat malam hari, bisa mengacaukan ritme sirkadian atau sistem jam biologis.

Dampak buruknya, proses produksi pada beberapa jenis hormon krusial akan terhambat, di mana ada beberapa hormon spesifik yang paling rentan mengalami gangguan akibat kebiasaan buruk ini.

Salah satu jenis hormon dengan tingkat risiko gangguan tertinggi adalah melatonin, yang memegang peran utama dalam mengatur sinyal dan waktu tidur tubuh. pancaran cahaya biru dari layar gawai, laptop, ataupun tablet bisa memicu bias pada otak yang mengira hari masih siang, sehingga proses sekresi melatonin menjadi terhambat.

"Paparan layar yang berlebihan bukan hanya masalah gaya hidup, tetapi memiliki dampak nyata terhadap keseimbangan hormon tubuh,” jelas Dr. Gupta, seperti dikutip Only My Health, Rabu (1/7/2027).

Efek dominonya, seseorang bakal mengalami kendala susah tidur, sering terbangun di tengah malam, hingga tetap merasa lesu walaupun durasi tidurnya sudah tergolong lama.

"Paparan cahaya biru dapat mengganggu sinyal antara otak dan sistem endokrin sehingga memengaruhi pola tidur, pengendalian nafsu makan, serta respons terhadap stres," tutur dia.

Di samping mengacaukan hormon tidur, pengoperasian gawai dalam durasi panjang juga memicu lonjakan kadar kortisol yang dikenal sebagai hormon stres. Fenomena ini rawan terjadi jika seseorang terus-menerus memantau notifikasi masuk, menyelesaikan pekerjaan di depan layar, atau berselancar di media sosial tanpa mengenal waktu istirahat.

Pada kondisi normal, hormon kortisol akan mencapai level tertinggi di pagi hari demi memicu energi tubuh, kemudian menyusut secara bertahap menjelang malam hari. Namun, intensitas screen time yang kelewat batas membuat kadar kortisol bertahan di posisi tinggi, yang berujung pada munculnya rasa cemas, sensitif atau mudah marah, keletihan, hingga tubuh yang sulit beristirahat.

"Bahkan satu hingga dua jam menggunakan layar sebelum tidur dapat menunda pelepasan melatonin sehingga seseorang lebih sulit terlelap," kata Dr. Gupta.

Ia menambahkan, ketika tubuh kehilangan petunjuk alami dari cahaya, jam biologis menjadi bingung. Hal itu membuat banyak orang tetap merasa lelah meski sudah menghabiskan waktu cukup lama di tempat tidur.

Imbas negatif dari aktivitas screen time ini tidak hanya berhenti pada persoalan gangguan tidur dan stres semata. Kebiasaan duduk diam dalam waktu lama saat mengoperasikan gawai biasanya dibarengi dengan perilaku malas bergerak serta kebiasaan mengemil, yang pada akhirnya mengganggu kinerja insulin sebagai hormon pengatur kadar gula darah.

Dalam jangka panjang, habitasi tersebut menyimpan risiko pemicu resistensi insulin, problem kegemukan, hingga penyakit diabetes tipe 2. Sementara bagi kaum perempuan, rusaknya ritme sirkadian tubuh juga bisa mengintervensi kestabilan hormon reproduksi layaknya estrogen dan progesteron.

Kualitas tidur yang buruk secara kontinu berisiko merusak transmisi sinyal hormon yang memegang kendali atas siklus menstruasi serta masa subur, utamanya bagi perempuan yang mengidap gangguan polycystic ovary syndrome (PCOS).

Dr. Gupta mengatakan, dokter kini semakin sering menemukan pasien yang mengalami kelelahan dan perubahan suasana hati akibat pola hidup, bukan semata-mata karena penyakit.

Ia menyarankan untuk berkonsultasi ke dokter apabila mengalami gangguan tidur berkepanjangan, menstruasi tidak teratur, gejala PCOS yang memburuk, kelelahan kronis, perubahan suasana hati, atau kenaikan berat badan tanpa penyebab yang jelas. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan hormon yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index