Penyebab Premi Asuransi Properti Semester I 2026 Turun 13,6 Persen

Penyebab Premi Asuransi Properti Semester I 2026 Turun 13,6 Persen
Ilustrasi Asuransi Properti.

JAKARTA - Produk asuransi properti atau harta benda mencatatkan kontraksi pada semester I/2026, usai merekam pertumbuhan premi selama dua tahun berturut-turut pada periode yang sama.

Merujuk data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), pendapatan premi asuransi properti pada semester I/2026 melandai 13,6 persen (year on year/YoY) menjadi Rp15,50 triliun. Berbanding terbalik, nilai klaim justru melonjak signifikan hingga 75,8 persen YoY menjadi Rp5,78 triliun.

Bila menilik tahun sebelumnya, pada semester I/2025 premi asuransi properti membukukan pertumbuhan 8,1 persen YoY menjadi Rp17,95 triliun dengan klaim sebesar Rp3,29 triliun atau naik 5,2 persen YoY.

Sementara itu, premi pada semester I/2024 sempat tumbuh 32,8 persen YoY mencapai Rp16,66 triliun, adapun nilai klaimnya menyusut 3,1 persen YoY menjadi Rp3,17 triliun.

Ketua Umum AAUI Budi Herawan menilai kondisi premi yang menurun pada semester I/2026 ini belum serta-merta mencerminkan penurunan kebutuhan proteksi properti secara struktural, mengingat lini usaha tersebut masih menjadi salah satu penopang terbesar dalam industri asuransi umum.

Budi mengungkapkan sejumlah faktor yang memengaruhi penurunan premi antara lain timing renewal dan pencatatan polis korporasi besar, pergeseran exposure maupun struktur pertanggungan, hingga meningkatnya retensi risiko oleh tertanggung.

“Pada perusahaan besar dengan kemampuan finansial dan manajemen risiko yang kuat, juga terdapat kemungkinan sebagian risiko ditahan sendiri melalui self-insurance atau self-retention yang lebih besar, sementara asuransi lebih difokuskan pada risiko dengan severity tinggi atau catastrophic risk,” jelasnya kepada Bisnis, Kamis (17/9/2026).

Ia menambahkan, AAUI memandang peluang perbaikan untuk asuransi properti masih terbuka lebar pada semester II/2026. Hal tersebut ditopang oleh realisasi investasi nasional semester I/2026 yang menembus Rp1.010,6 triliun, sehingga berpotensi melahirkan aset produktif baru seperti fasilitas industri, pabrik, gudang, serta kawasan komersial yang membutuhkan perlindungan asuransi.

Sektor perumahan juga dinilai mulai memperlihatkan sinyal pemulihan. Penjualan properti residensial primer pada triwulan II/2026 membaik dengan kontraksi sebesar 2,36 persen secara tahunan, jauh lebih positif dibandingkan kontraksi 25,67 persen pada triwulan sebelumnya.

Di samping itu, target pemerintah menyalurkan sekitar 350.000 unit rumah subsidi lewat program FLPP pada 2026 diprediksi menambah stok hunian sekaligus memperluas basis aset residensial yang dapat diasuransikan.

“Karena itu, penurunan premi pada semester I kami lihat belum tentu merupakan tren permanen. Peluang pemulihan tetap ada apabila momentum investasi, pembangunan dan sektor perumahan tersebut dapat semakin dikonversi menjadi insured assets hingga akhir tahun,” jelas Budi.

Lebih jauh, Budi yang juga menjabat Direktur Utama PT Asuransi Candi Utama membeberkan strategi bagi perusahaan asuransi untuk mendongkrak premi, salah satunya dengan memperluas basis objek pertanggungan di luar akun korporasi besar.

Potensi besar menurutnya ada pada sektor manufaktur, hilirisasi, kawasan industri, pergudangan, data center, rumah sakit, pusat perbelanjaan, hospitality, residensial, hingga sektor UMKM.

“Industri juga perlu menawarkan perlindungan yang semakin sesuai dengan perkembangan risiko, antara lain perlindungan terhadap kebakaran, banjir, gempa bumi, business interruption dan berbagai risiko katastrofe lainnya. Hal ini perlu dibarengi dengan risk engineering dan loss prevention agar pertumbuhan premi tetap diikuti dengan kualitas risiko yang baik,” ungkapnya.

Selain itu, perusahaan asuransi perlu mendorong review nilai pertanggungan secara berkala agar sum insured tetap sejalan dengan replacement cost aktual bangunan maupun peralatan kerja agar tidak terjadi underinsurance.

Perusahaan juga diimbau menangkap peluang sejak tahap awal pembangunan melalui construction and engineering insurance, sebelum dilanjutkan ke perlindungan properti saat aset beroperasi.

Sementara itu, PT Great Eastern General Insurance (GEGI) menyatakan fokus pada pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Marketing Director GEGI Linggawati Tok menyebut pihaknya memperkuat kemitraan bisnis, meningkatkan penetrasi segmen SME, serta mengoptimalkan nasabah eksisting lewat cross-selling dan up-selling.

“Selain itu, kami juga terus meningkatkan kualitas layanan, mempercepat proses underwriting dan klaim, serta memberikan dukungan risk management kepada nasabah,” tuturnya kepada Bisnis, Rabu (16/9/2026).

Linggawati menilai penurunan premi pada paruh pertama 2026 dipicu kehati-hatian pelaku usaha dalam ekspansi, perlambatan investasi, penutupan sejumlah pabrik, ketidakpastian ekonomi global, serta persaingan pasar yang ketat.

“Karena menuntut perusahaan untuk tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio,” sebutnya terkait tantangan semester II/2026 yang diwarnai tingginya efisiensi dan frekuensi klaim.

Di sisi lain, Ketua Umum Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (Kupasi) Azuarini Diah Parwati berpendapat tantangan utama industri adalah menyeimbangkan volume premi dengan kehati-hatian underwriting di tengah melonjaknya rasio klaim.

“Kemudian, pipeline objek pertanggungan baru masih terbatas karena investasi korporasi belum pulih penuh, persaingan harga di properti komersial ketat, penetrasi ritel/UMKM masih rendah, dan perlu kewaspadaan atas konsentrasi risiko katastropik di satu wilayah,” bebernya kepada Bisnis, Kamis (17/9/2026).

Guna mengatasi hambatan tersebut, Azuarini menyarankan empat langkah utama: memperluas basis ke sektor UMKM dan hunian, memperkuat produk katastropik/parametrik, memperluas jalur distribusi digital maupun bancassurance, serta menjaga disiplin underwriting dan tarif rasional.

“Keempat adalah menjaga disiplin underwriting dan menjaga tarif yang wajar. Jangan hanya mengejar volume dengan mengorbankan kualitas risiko,” pungkas Azuarini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index